Berburu Madu Hutan Langsung dari Asalnya di Duntana, Flores Timur

Dewi Rachmanita Syiam
4 min readSep 12, 2019

--

Foto: Dewi Rachmanita Syiam

Jangan takut duluan dengar judulnya nyaris tersengat lebah. Pengalaman HAI berburu madu hutan di Duntana, Flores penuh dengan keseruan sob. Cocok buat lo yang berjiwa petualang. Selain perlu masuk hutan, meskipun emang nggak terlalu dalam sih, lo juga bakal berhadapan dengan lebah-lebah raksasa dan rasa deg-degan lihat proses pengambilan madunya.

Sabtu (13/10) lalu, HAI bersama Rumadu dalam DBS Daily Kindness Trip berpetualang ke Duntana, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) buat berburu madu hutan. Fyi, madu hutan tuh beda ya dengan madu yang diternak khusus. Madunya lebih cair dan enak serta alami.

Menuju hutan, perjalanan cukup panjang mesti HAI tempuh dari Larantuka. Sesampainya di tepi hutan, udah ada cowok calon pemanjat yang bakal “beraksi” ambil madu hutan langsung dari pohon.

Nggak main-main sob, tinggi pohon belasan sampai puluhan meter yang biasa dinaiki para pemburu madu hutan.

Mula-mula nih, para pemburu atau petani madu hutan emang udah memantau dulu pohon-pohon yang mana aja yang bisa dipanen. Satu pohon biasanya ada beberapa sarang lebah.

Satu sarang bisa menghasilkan sampai 30 botol madu. Bahkan kalau lagi panen, dalam satu malam bisa menghasilkan 300–400 botol madu dari banyak pohon. Malah pernah suatu waktu, dalam satu pohon menghasilkan 1 ton madu hutan! Mantul nggak tuh sob.

Umumnya mereka sih berburu malam hari. Hal itu disinyalir biar makin mengurangi resiko tersengat lebah, baik bagi pemburu yang ambil di atas pohon maupun yang nunggu di bawah.

Setelah tahu pohon mana yang akan jadi incaran, petani madu pun memanjat pohon tersebut dengan membawa ijuk yang nantinya bakal dibakar. Fungsi ijuk tersebut untuk mengasapi sarang lebah bro. Yap, ini tergolong cara yang efektif dan mementingkan keberlanjutan ekosistem. Jadi, pohon nggak ditebang ya biar lebah tetap bisa bersarang di pohon yang sama. Waktu naiknya pun, pohon nggak dipaku biar kalau hujan air nggak masuk dan bikin lembab pohon lalu tumbang.

Foto: Dewi Rachmanita Syiam

Setelah diasapi, sarang dipotong dari pohon bro lalu dibawa ke bawah dengan ember. Nah, ini titik mendebarkan juga buat HAI dan rombongan di bawah. Lebah-lebah raksasa mulai berhamburan dan mulai terbang ke sana ke mari. Nyaris aja HAI tersengat sob! Buru-buru dekat asap api biar lebah kabur.

Triknya kalau otw disengat lebah, lo jangan panik. Tetap kalem aja lalu jongkok. Perlahan menuju api dan biar diri lo terasapi. Kalau pun tersengat, jangan langsung pukul lebah. Periksa bagian tubuh yang tersengat dan ambil sisa bagian lebah yang masih tersangkut di tubuh. Habis itu, olesi dengan madu.

Kalau para pemburu sih udah kebal sob dengan lebah. Hal itu diungkap langsung oleh Abang yang jadi petani waktu HAI datang. Dia udah jadi nyari madu sejak SD loh kira-kira lebih dari 25 tahun deh.

Menikmati madu hutan di asalnya langsung

Setelah dibawa ke bawah, sarang dibersihkan dan dipisahkan dari bagian lilinnya. Wah mantap sih, waktu HAI coba emang rasanya manis banget. Benar-benar alami! Apalagi sensasi makan madu liar langsung dari sarangnya itu loh. Tapi, emang mesti hati-hati, takut nanti ada lebah yang tiba-tiba menyengat.

Foto: Dewi Rachmanita Syiam

Menikmati madu hutan langsung di hutanya emang punya sensasi tersendiri. Rasa penasaran ingin terus makan madu dihantui kewaspadaan disengat lebah. Cuma, sebenarnya emang jarang kasus sengat lebah.

Madu itu disaring dan dikumpulkan dalam wadah. Nantinya baru diolah khusus di unit pengelolaan Rumadu. Baru deh lo bisa menikmati madu dalam kemasan tanpa pengawet.

Foto: Dewi Rachmanita Syiam

“Kita emang sangat sederhana karena maunya yang alami tanpa ada intervensi apa-apa, tapi kita tetap menjaga standar kualitas agar madu layak dikonsumsi,” kata Yohannes dari Rumadu.

Foto: Dewi Rachmanita Syiam

Lebih lanjut, dia bilang emang mau nampilin apa adanya dan menjaga kearifan lokal. Nggak sekadar ambil madu untuk sesaat, Yohannes pun menjaga ekosistem biar ada keberlanjutan. Rumadu juga punya kordinator di tiap desa buat menjaga kualitas madu maupun ekosistem.

Kalau mau menikmati madu hutan, tapi di rumah lo bisa beli kok madu yang udah dikemas. Harganya cuma Rp80.000 aja. Cuma ya sensasinya bakal beda sih kalau langsung menikmatinya di hutan.

*Tulisan ini pertama kali tayang di HAI pada 21 Oktober 2018 dengan judul yang sama.

--

--

Dewi Rachmanita Syiam
Dewi Rachmanita Syiam

Written by Dewi Rachmanita Syiam

Tentang perjalanan, musik, dan cerita. Saya di Instagram: #JalanBarengDewi

No responses yet